Sabtu, 29 Desember 2012

KANDUNGAN AL-QURAN



Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS An-Nahl, 16:89)
Allah Swt. tidak menciptakan manusia dengan sia-sia. Ada misi yang harus dan tujuan-tujuan mulia yang menuntut dirinya berjuang mendapatkannya. Untuk tujuan tersebut, Allah Swt. memberikan petunjuk dan bimbingan kepada manusia bagaimana menjalankan visi dan misi hidupnya, serta strategi bagaimana mencapai tujuan penciptaannya. Petunjuk yang Allah berikan itu bersifat kauniyah, artinya petunjuk itu tersebar di alam semesta dan berbentuk hukum-hukum kehidupan. Allah Swt. pun memberikan petunjuk-petunjuk yang bersifat qauliyah yang tercantum dalam Al-Quran. (i)
Dengan demikian, Al-Quran adalah sebentuk kasih sayang Allah yang utama kepada manusia, khususnya kepada hamba-hamba yang beriman. Allah Swt. menyebut Al-Quran sebagai “hudan”; petunjuk dan rahmat (kasih sayang). “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl, 16:89)(ii)
Sebagai Al-Hudan, Al-Quran berisi petunjuk-petunjuk yang bersifat global dan komprehensif terkait persoalan-persoalan hidup manusia, baik itu urusan manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungan sekitarnya. (iii)
Secara garis besar, kandungan Al-Quran berkisar pada tiga hal pokok yang menjadi tujuan utama dari kehadirannya. Pertama, masalah akidah, yaitu ajaran yang harus dipercaya, yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan, kenabian, kitab suci, hal-hal gaib, dan sebagainya, termasuk kepercayaan akan kepastian Hari Pembalasan. Kedua, masalah syariat, yaitu hukum-hukum yang harus diikuti, baik yang menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan sesamanya, maupun hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Ketiga, masalah akhlak, berupa tuntunan untuk memperindah perbuatan manusia, dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti baik secara individual maupun secara kolektif. (iv)
Apabila diperinci lagi, Al-Quran mengandung tema-tema khusus yang akan mengungkap banyak hal dari kehidupan manusia, antara lain:
  1. Sejarah atau Kisah. Al-Quran penuh dengan bahan-bahan sejarah, mulai dari sejarah kejadian bumi dan kejadian langit, alam seluruhnya, sejarah kehidupan para nabi dan rasul sejak Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad saw. Al-Quran pun menceritakan tentang kemunculan nabi-nabi palsu yang akan dan sudah lahir, sejarah kerajaan-kerajaan besar, seperti Babylonia, Mesir, Romawi, sejarah bangsa Arab jahiliyah, Nasrani dan Yahudi, dan sebagainya. Tidak saja fakta-fakta sejarah, akan tetapi juga pelajaran yang dapat diambil dari kejadian-kejadian dalam sejarah itu.
  2. Etika Pergaulan. Al-Quran pun mengadung pelajaran-pelajaran yang sangat baik untuk dijadikan penuntun dalam pergaulan antara satu kerajaan dengan kerajaan yang lain, antara satu golongan manusia dengan golongan manusia yang lain. Antara anggota keluarga, murid dan guru, antara manusia dengan Tuhan dan sebagainya. Tuntunan yang baik antara sesama umat manusia, tuntunan pergaulan hidup yang dapat membawa perdamaian dan kemajuan, ketenteraman dan kesejahteraan dari semua pihak. Ilmu kemasyarakatan dan ilmu pergaulan hidup yang dikemukakan Al-Quran tidak saja bersifat pengetahuan, tetapi juga mengandung aspek-aspek pendidikan dan tuntunan hidup yang murni. Tuntunan menjalani kehidupan sehari-hari diungkapkan pula oleh Al-Quran. Termasuk pula ayat-ayat yang berkenaan dengan ekonomi, industri, perdagangan, perhubungan darat dan laut, dan sebagainya.
  3. Akidah atau Keyakinan. Dalam soal ketuhanan, Al-Quran memberi jawaban yang putus, puas dan tegas. Tidak satu pun kitab suci sekah dunia terkembang yang telah dapat menerangkan pelajaran tauhid demikian sempurna sebagaimana yang termuat dalam Al-Quran. Dari abad ke abad dunia keagamaan mencari jalan keesaan Tuhan. Islamlah dengan pelajaran Al-Quran yang telah dapat membawa manusia kepada tauhid dalam arti kata yang sesungguhnya. Islam membasmi semua kemusyrikan dan menghilangkan semua takhayul yang mengikat kemerdekaan berpikir bagi manusia.
  4. Politik. Politik yang dikemukakan Al-Quran adalah politik yang berdasarkan hak sama rata yang sehat, hak kedaulatan rakyat yang adil, yang dapat membawa keamanan dan kebaikan bagi seluruh golongan. Oleh karena itu, pemerintahan tidak berpegang semata-mata oleh seorang pemimpin, tetapi juga harus memerhatikan anggota masyarakat yang tidak turut pemerintahan dalam kerangka aturan Ilahi.
  5. QitalUntuk mengatur pertahanan negara yang kuat Al-Quran memberikan petunjuk atau cara-cara yang sagat manusiawi. Peperangan untuk menjajah, untuk memperbudak sesama manusia tidak diperkenankan, akan tetapi peperangan untuk membela diri, membela harta dan jiwa, terutama untuk membela agama Allah, menjamin kemerdekaan beragama dan berpikir, melenyapkan kezaliman adalah peperangan yang dianggap suci oleh Al-Quran, peperangan jihad di atas jalan Allah. Disiplin diaturnya, startegi diaturnya, kalah menang diaturnya, perjanjian dan perdamaian diaturnya, sampai kepada urusan harta rampasan dan kelakuan-kelaukan prajurit diberinya tuntunan-tuntunan yang baik, untuk menjauhi segala apa yang bersifat zalim dan menjaga kehormatan Islam dan umatnya.(v)
Dalam membeberkan berbagai persoalan, terkadang Al-Quran membahasnya dengan detail. Dalam hal waris dan utang piutang misalnya, Al-Quran menjelaskan sangat detail, mulai dari prinsip-prinsipnya hingga hitungan pembagiannya. Akan tetapi, pada persoalan lain, Al-Quran hanya menjelaskan prinsip-prinsipnya saja, seperti persoalan ekonomi, politik, dan sosial. (vi)
Catatan Kaki:
(i)       Emsoe Abdurrahman & Apriyanto Rd., The Amazing Stories of Al-Quran: Sejarah yang Harus Dibaca (Bandung: Salamadani, 2009), hlm.12
(ii)     Ibid., hlm. 12
(iii)   Op.cit., hlm. 12
(iv)   Quraish Shihab,  M. Quraish Shihab Menjawab: 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 276
(v)     Emsoe Abdurrahman & Apriyanto Rd., op.cit. hlm. 13-14
(vi)   Emsoe Abdurrahman & Apriyanto Rd., op.cit. hlm. 15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar